Prosa : Pengertian, Unsur, Jenis-jenis Beserta Contohnya

By | 2022-11-20
prosa

Prosa merupakan karya sastra lama yang dahulu cukup terkenal dan memiliki makna beragam. Keberagaman makna itu tergantung pada Batasan pemaknaan yang dilakukan. Memiliki arti luas sebagai karya tulis puisi atau drama, dalam arti sempit identik dengan fiksi. Oleh mari kita bahas salah satu karya sastra  yang terkenal di Indonesia yang satu ini.

Pengertian Prosa

Prosa adalah karya sastra dengan bahasa bebas tanpa ikatan. Prosa tersusun dalam kalimat berurutan dan sambung-menyambung sehingga membentuk cerita. Karya sastra tersebut tidak terikat oleh banyak baris dan suku kata. Setiap baris tidak terikat oleh irama dan rima seperti dalam puisi. Prosa memiliki perbedaan dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar. Bahasa prosa lebih sesuai dengan arti katanya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan fakta atau ide.

Menurut isinya, prosa dibagi menjadi prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Prosa fiksi adalah prosa  berupa cerita rekaan atau khayalan pengarang. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan narasi sugesti/imajinatif. Sementara itu prosa nonfiksi adalah karangan tidak berdasarkan rekaan atau khayalan pengarang. Akan tetapi, nonfiksi berisi informasi berupa faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang.

Jenis-Jenis Prosa

Terdapat macam-macam prosa yang terbagi berdasarkan masanya sebagai berikut:

Jenis-Jenis Prosa Lama

Jenis-jenis prosa lama hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia. Jenis ini merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra ini mula-mula timbul dan disampaikan secara lisan karena belum mengenal bentuk tulisan.

Setelah masyarakat Indonesia menjadi akrab dengan tulisan, karya sastra berbentuk tulisan pun mulai dikenal banyak orang. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal. Sejak saat itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.

Jenis cerita fiksi lama juga terbagi dalam beberapa jenis sebagai berikut:

Cerita rakyat

Cerita rakya dibedakan menjadi cerita jenaka,mite, fabel, saga, dan legenda. Berikut ini adalah ciri khas dari setiap jenis tersebut.

Cerita jenaka

Cerita jenaka disebut juga cerita penggeli hati. Cerita jenaka adalah cerita pendek berisi kebodohan atau kecerdikan seseorang dan menimbulkan senyum atau tertawa bagi pembaca atau pendengar. Cerita jenaka, misalnya cerita “Pak Pandir” ( seorang bodoh, selalu salah melakukan pesan istrinya), “Pak Belalang” (seorang cerdik), dan “Lebai Malang” ( seorang selalu malang).

Semua daerah di Indonesia hamper memiliki toko lucu tersebut. Cerita jenaka lainnya seperti “Si Kabayan” (Jawa Barat), “Joko Bodho” (Jawa Tengah), dan “Pan Balang Tamak” (Bali)

Mite

Mite adalah cerita berhubungan dengan kepercayaan animism. Cerita-cerita tersebut berhubungan dengan kepercayaan terhadap suatu benda atau peristiwa gaib, alam gaib atau yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib, seperti dewa, peri, ataupun Tuhan. Cerita berisi dewa-dewi atau roh. Contoh mite yaitu cerita “Putri Tunjung Buih”, “Putri Bunga Karang” dan “Putri dari Bambu”

Fabel

Fabel adalah cerita yang tokoh-tokohnya binatang. Binatang-binatang diceritakan hidup dan bermasyarakat seperti manusia. Contoh fabel seperti cerita “Banteng dan Buaya”, “Burung Bangau”, “Cerita Si Kancil yang Cerdik”, “Kancil dengan Buaya”, “Kancil dengan Harimau”, dan “Cerita Ikan Gabus”

Parabel

Parabel adalah dongeng perumpamaan biasa untuk mendidik anak tetnang kesusilaan atau keagamaan. Tokoh yang berperan dalam fabel adalah tokoh binatang. Sementara itu, tokoh manusia berperan dalam parabel.

Fabel mengemukakan masalah sederhana mengenai kehidupan sehari-hari. Parabel mengemukakan gagasan-gagasan sulit tentang kebenaran moral dan kejiwaan. Namun, gagasan-gagasan sulit itu disampaikan dengan cara mudah dipahami. Contoh parabel adalah “Dzat Yang Maha Melihat”

Legenda

Legenda adalah cerita lama mengisahkan Riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah, kejadian alam, asal-usul suatu benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh legenda, “Terjadinya Gunung Tangkuban Perahu”, dongeng “Malinkundang”, Legenda “Banyuwangi”, “Terjadinya Kota Bandung”, dan cerita “Nyai Roro Kidul”.

Saga

Saga adalah cerita lama yang di dalamnya mengandung unsur sejarah atau berhubungan dengan sejarah. Saga menceritakan kepahlawanan, kekerasan, kesakitan, keberanian, dan keajaiban para raja, pangeran atau tokoh-tokoh tertentu. Contoh saga yaitu “Calon Arang”, “Ciung Wanara”, “Airlangga”, “Panji, Smaradhana”, “Kesaktian Hang Tuah”, “Lutung Kasarung”, “Damarwulan”, “Angling Darma”, “Dongeng Kesaktian”, dan Keperkasaan “Patih Gajah Mada”.

Hikayat

Hikayat berasal dari bahasa Arab, hikayah, yang berarti kisah, cerita, atau dongeng. Dalam sastra melayu lama, hikayat diartikan sebagai cerita rekaan berbentuk prosa Panjang berbahasa melayu. Hikayat dalam sastra melayu menceritakan kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesakitan, keanehan, dan hidayah yang mereka miliki.

Hikayat termasuk genre popular dalam masyarakat Melayu dengan jumlah cerita cukup banyak. Dalam kehidupan masyarakat melayu khususnya, hikayat berfungsi sebagai media didatik (Pendidikan) dan hiburan.

Berdasarkan isi, hikayat dapat digolongkan ke dalam tiga jenis yaitu. Jenis rekaan, contohnya “Hikayat Malim Dewa”, Jenis Sejarah, contohnya “Hikayat Hang Tuah”, “Hikayat Pattani”, dan “Hikayat Raja-Raja Pasai”, Jenis Biografi, Contohnya “Hikayat Abdullah” dan “Hikayat Sultan Ibrahim bin Adam”

Jenis-Jenis Prosa Baru

Jenis-jenis prosa baru Fiksi atau cerita rekaan dalam kesastraan Indonesia baru lahir karena sentuhan kesastraan Barat ( terutama kesastraan Belanda). Bentuk fiksi yang lahir pada masa kesastraan Indonesia baru yaitu Cerita pendek ( Cerpen), Novel, cerita bersambung (cerber), prosa liris, dan prosa mini.

Cerpen

Cerpen memuat penceritaan yang memusatkan suatu peristiwa pokok. Sebuah cerpen pada dasarnya menuntut perwatakan jelas pada tokoh cerita. Sang tokoh merupakan ide pokok cerita. Cerita bermula dari sang tokoh dan berakhir pada nasib yang menimpanya. Dalam Teori Pengkajian Fiksi karangan Burhan Nurgiyantoro dijelaskan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam.

Novel

 Novel berasal dari bahasa Italia, Novella, yang berarti barang baru berukuran kecil. Kemudian, kata tersebut menjadi istilah sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Novel lebih Panjang isinya daripada cerven. Konflik yang dikisahkannya lebih luas. Novel merupakan bentuk karya sastra paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak yang beredar diseluruh dunia.

Prosa Liris

Prosa liris adalah salah satu bentuk karya sastra dalam ragam prosa yang ditulis dan diungkapkan dengan menggunakan unsur-unsur puisi. Bahasanya berirama dan pencitraannya seperti puisi. Ikatan antara dalam sebuah kalimat. Atau hubungan antar kalimat dalam sebuah paragraph ( secara sintaksis) lebih mendekati bentuk prosa.

Prosa liris merupakan bentuk karya sastra berisi curahan perasaan pengarang secara subjektif. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Terdiri atas baris-baris seperti pada puisi
  • Tidak terikat oleh baris, bait, serta rima dan irama
  • Dipengaruhi oleh subjektivitas pengarang
  • Isinya mengambil bahan dari kehidupan sehari-hari
  • Di dalamnya terdapat irama selaras dengan perasaan terkandung dalam prosa liris
  • Bersifat lirik atau curahan perasaan
  • Tidak bersajak, kalau ada sajak hanya kebetulan
  • Tidak untuk membawakan cerita, tetapi berisi lukisan perasaan tertentu yang dikandung pengarang
  • Karangan disusun paragraph demi paragraph seperti prosa biasa
  • Prosa liris termasuk dalam kesastraan baru

Unsur- Unsur Prosa

Unsur Prosa Fiksi

Unsur Intristik Prosa Fiksi

Unsur-unsur intrisktik karya sastra terdiri atas tema, perwatakan, alur, atau plot, alta, pusat pengisahan, dan amanat.

Tema

Tema adalah ide, gagasan atau pandangan hidup pengarang yang melatarbelalangi penciptaan karya sastra. Sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, tema yang dapat diungkapkan dalam karya sastra sangat beragam. Tema dapat berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, atau tradisi yang dekat dengan masyarakat. Namun tema dapat pula berupa pandangan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.

Perwatakan atau penokohan

Sebagian besar tokoh karya fiksi adalah tokoh-tokoh rekaan. Tokoh rekaan disebut juga tokoh imajinasi pengarang.  Masalah penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita. Tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot, dan tema. Berkembangnya ilmu jiwa merupakan satu alasan penting peranan tokoh cerita.

Alur atau Plot

Salah satu elemen penting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot. Plot sering disebut juga alur. Pengertian paling umum yaitu sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita. Plot sebuah cerita tidaklah sekedar rangkaian peristiwa yang termuat dalam topik-topik tertentu.

Dalam plot juga memiliki tahapan yaitu Awal-Tengah-Akhir, tahap awal biasanya merupakan tahapan dalam pengenalan plot cerita dan juga pengenalan para tokoh khususnya tokoh utama dalam cerita. Tahap tengah cerita disebut juga sebagai tahap pertikaian, tahap ini menampilkan pertentangan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya.

Tahap akhir disebut juga tahap peleraian. Tahap ini menampilkan adegan tertentu sebagai klimaks. Bagian ini misalnya berisi bagaimana kesudahan cerita dan bagaimana cerita itu di akhiri. Namun ada juga penyelesaian cerita yang masih menggantung, masih menimbulkan tanda tanya dan tidak jarang menimbulkan penasaran.

Latar atau setting

Latar merupakan sau elemen pembentuk cerita yang sangat penting. Elemen tersebut dapat menentukan situasi umum sebuah karya sastra. Latar dimaksudkan untuk mengidentifikasi situasi yang tergambar dalam cerita.

Latar atau setting disebut jgua landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Latar dibedakan dalam tiga unsur yaitu tempat, waktu, dan sosial.

Latar tempat menyarankan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Unsur tempat yang dipergunakan berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Masalah “kapan” tersebut dihubungkan dengan waktu faktual. Pembaca menikmati cerita berdasarkan acuan waktu yang diketahuinya dan berasal dari luar cerita.

Latar sosial menyarankan pada unsur-unsur yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat tertentu. Tata cara kehidupan masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup cukup kompleks. Maslah tersebut dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, dan cara berpikir.

Sudut pandang atau point of view          

Sudut pandang dalam karya sastra fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan atau dari posisi mana peristiwa dan tindakan itu dilihat. Dengan demikian, pemilihan bentuk persona yang dipergunakan memengaruhi perkembangan cerita.

Pembedaan sudut pandang berikut berdasarkan yang telah umum dilakukan orang terdapat 2 sudut pandang berdasarkan tokoh cerita yaitu sudut pandang ketiga dan pertama

Sudut pandang orang ketiga

Pengisahan cerita pada umumnya menggunakan sudut orang ketiga. Narator adalah seseorang yang berada diluar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata ganti orang ketiga.

Misalnya ia, dia, dan mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama. Sering atau terus- menerus disebut

Sudut pandang orang pertama

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang orang perama, narrator adalah seorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si “aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran diri sendiri. Narrator mengisahkan peristiwa dan tindakan yang diketahui, dilihat, didengar, didalami, dan dirasakan, serta sikap terhadap orang lain kepada pembaca.

Sudut pandang orang pertama dibedakan menjadi dua golongan, pertama, “aku” mungkin menduduki peran utama yaitu sebagai tokoh protagonis. Kedua, “aku” menduduki peran tambahan, yaitu sebagai tokoh tambahan protagonist atau berlaki sebagai aksi.

Amanat

Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam sebuah cerita. Pesan dalams ebuah cerita mencerminkan pandangan hidup pengarang, misalnya pandangan tentang nilai-nilai kebenaran. Sebuah cerita mengandung penerapan pesan dari pengarang.

Berikut ini adalah cara mudah menemukan amanat dalam sebuah cerita:

  1. Amanat dapat ditemukan dengan membaca cerita secara cermat. Jika perlu, cerita harus dibaca secara berulang-ulang
  2. Amanat dapat ditemukan dengan mencari kalimat yang mengandung saran atau nasihat dalam cerita tersebut.
  3. Amanat berupa saran, seruan, nasihat, anjuran, atau pesan
  4. Amanat biasa terdapat di bagian akhir cerita. Selain itu, amanat dapat dicari dari dialog yang disampaikan tokoh cerita.

Unsur Ekstrinsik Prosa Fiksi

Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam karya sastra yaitu tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa. Disamping unsur-unsur lain, gaya bahasa menentukan keberhasilan dalam sebuah cerita. Keberhasilan sebuah cerita bukan pada apa yang dikatakan, melainkan bagaimana mengatakannya.

Kalimat-kalimat yang enak dibaca. Ungkapan-ungkapan baru dan hidup, suspense atau ketegangan peristiwa yang menyimpan rahasia, pemecahan persoalan rumit, atau pengalaman-pengalaman baru bernuansa kemanusiaan merupakan muatan gaya bahasa yang membaut pembaca terpesona

Riwayat hidup pribadi pengarang

Pengalaman hidup pengarang memengaruhi terbentuknya karya sastra. Sebagian besar pengalaman hidup pengarang diimplementasikan dalam diri tokoh utama.

Kehidupan masyarakat tempat karya sastra itu diciptakan

Kehidupan di lingkungan pengarang, seperti suasana politik, keadaan ekonomi, dan keadaan sosial budaya memengaruhi terbentuknya karya sastra. Novel Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai kental dengan budaya Minangkabau.

Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra.

Nilai-nilai yang terkandung karya sastra terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai kehidupan tersebut tercermin dari sikap dan perilaku tokoh dalam karya sastra.

  1. Nilai Moral

Sebuah karya sastra prosa baru seperti novel, mengandung pesan moral. Pesan moral dapat diungkapkan pengarang baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sederhana pesan moral dapat diketahui melalui perilaku para tokoh cerita atau komentar langsung pengarang lewat cerita tersebut.

  • Nilai Estetika atau Keindahan

Sebuah karya sastra menyajikan aspek-aspek keindahan yang melekat pada karya tersebut. Sebuah novel, misalnya, dapat diamati dari segi gaya bahasanya (majas)

  • Nilai sosial budaya

Sebuah karya sastra mencerminkan aspek sosial budaya suatu daerah tertentu

  • Nilai Religi

Nilai religi berkaitan dengan nilai-nilai keagamaan, ada pernyataan-pernyataan praktis dalam cerita yang dihubungkan dengan kesalehan hidup sehari-hari tokohnya

  • Nilai Politik

Karya sastra terkadang mengisahkan gejolak tata pemerintahan di suatu daerah. Gejolak ini menjadi latar cerita. Latar peristiwa politik dapat dijadikan salah satu dokumen sejarah bangsa.

Contoh Prosa Lama

Asal-Usul Gunung Merapi

Menurut para tetua yang tinggal di lereng Gunung Merapi, nun di kala itu, setelah Pulau Jawa diciptakan oleh para dewa, ternyata letaknya tidak rata, tetapi miring. Oleh karena itu, di kahyangan, para dewa, segera diselenggarakan rapat untuk membicarakan masalah itu. Maka, dicapai kesepakatan bahwa, pulau jawa akan dapat rata dan tidak miring, jika di tengah-tengahnya diletakkan sebuah gunung yang besar dan tinggi, untuk menjaga keseimbangan. Gunung itu harus didatangkan dari laut selatan, yakni Gunung Jamurdipa.

            Akan tetapi, keputusan rapat itu tidak segera dapat dilaksanakan sebab di tempat yang sudah ditenttukan itu dua orang empu, ahli membuat keris, tengah mempersiapkan sebilah keris sakti. Mereka itu adalah Empu Pamadi dan Empu Rama. Agar keputusan dewa segera dapat dilaksanakan, mereka diminta pindah ke tempat lain. Untuk itu, Dewa Penyarikan, yakni sekretaris para dewa dan dewa Narada, diutus Batara Guru, raja para dewa, menyampaikan pemikiran itu.

….

Karena mengemban perintah Batara Guru, Penyarikan dan Narada terpaksa menggertak mereka, bahkan setengah mengancam. Akan tetapi, kedua empu itu tidak merasa takut. Sebab, mereka juga mengemban tugas. Itulah sebabnya, pertengakaran mulut tidak terhindarkan, bahkan dilanjutkan dengan perkelahian. Walaupun empu itu dikeroyok berpuluh-puluh pasukan dewa,  mereka dapat mengalahkannya.dewa-dewa itu ketakutan melihat kesaktian empu-empu itu, lari dan terbang kembali ke kahyangan, memberikan laporan kepada Batara Guru. Tentu saja, raja para dewa sangat murka mendengar laporan itu. Ia segera memerintahkan Dewa Bayu yang menguasai angin agar meniup Gunung Jamurdipa. Dalam waktu sekejap, gunung di Laut Selatan sudah pindah ke tempat itu, setelah didahului gemuruhnya suara angin yang meniup kencang. Gunung itu jatuh tepat di perapian dan menindihlah dua orang empu itu. Mereka seketika meninggal dunia dan roh mereka menjadi penunggu gunung itu. Perapiannya berubah menjadi kawah. Karena kawah itu pada mulanya perapian, oleh para dewa, gunung itu diganti Namanya menjadi Gunung Merapi.

            Beberapa waktu kemudian, kembali Dewa Penyarikan dan Narada diutus oleh Batara Guru untuk memeriksa keadaan gunung yang baru dipindah itu. Oleh mereka tampak seekor naga besar. Kepada nag aitu, dewa memerintahkan agar menghadap ke kahyangan. Perintah itu ditaatinya. Tetapi, tatkala melaksanakannya, gerak nag aitu terhalang air mata yang terus-menerus mengalir dari mata seorang pertapa, Cupumanik Namanya. Dewa itu jengkel dibuatnya. Kepadanya, ia meminta agar menghadap Batara Guru untuk menjelaskan tujuannya membiarkan wilayah itu digenangi air matanya. Cupumanik memenuhi perintah dewa, sayang datangnya terlambat. Ini membuat Batara Guru muka lagi. Begitu tampak batang hidungnya, Cupumanik segera dipegangnya, diangkat tinggi, dan dihempaskan keras-keras pada Lembu Andini, seekor sapi sakti kendaraan Batara Guru. Tubuh Cupumanik hancur, tetapi tanduk sebelah kiri Andini juga patah. Dari tubuh yang remuk itu, muncul perawan berparas elok, Dewi Luhwati Namanya.

            Menatap Dewi Luhwati, Batara Guru jatuh hati dan memintanya menjadi istrinya. Luhwati menerima permintaan itu. Akan tetapi, setelah tinggal beberapa bulan di kahyangan, ia mulai bosan. Seorang bidadari yang juga elok parasnya, Dewi Sri Kembang, yang tinggal di istana dewa, sudah mencoba menghiburnya. Namun, tetap saja Luhwati tidak merasakan kebahagiaan. Mengetahui niat Luhwati ingin pergi, Batara Guru tersinggung. Bagaimana mungkin ia tidak bahagia menjadi istri raja para dewa? Batara Guru bertanya sambil menakuti dengan Trisula, tombak berujung tiga.

            Tanpa menjawab, Luhwati segera menubrukkan dirinya apda ujung senjata itu. Sri Kembang yang menyaksikannya menjerit. Batara Guru pun menyesal. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Luhwati mati karena dadanya tertusuk senjata sangat ampuh. Dengan sedih, Batara Guru segera memerintahkan dewa Bayu agar meniup jenazah Luhwati ke bumi. Melayang-layang di angkasa, menyusup awan-awan, akhirnya jenazah terjatuh di kerajaan Medang Kemulyaan. Begitu menentuh bumi, tubuh Luhwati segera meleleh dan menjadikan tanah gersang menjadi subur. Pohon-pohon bertumbuhan, semak-semak bermunculan, juga tanaman padi tampak di sawah-sawah. Sri Kembang yang melihat sahabatnya diterbangkan angin dan jatuh di bumi, memohon izin untuk melihat apa yang terjadi. Begitu izin diberikan, ia pun berangkat. Tetapi, ditengah jalan, ia dihadang Betara Kala, dewa yang wajahnya seperti raksasa, tubuhnya tinggi, besar, dan penuh bulu..

Sri Kembang menjerit melihat Betara Kala, tetapi ia tidak ingin kembali. Maka larilah ia di antara semak belukar, menyusup hutan dan mendaki bukit. Tatkala tiba di wilayah sawah-sawah, ia mendengar suara wanita memanggilnya. Sri Kembang mengenal sekali suara itu adalah suara Luhwati, yang ternyata sudah bersatu dengan bumi. Sementara Sri Kembang tengah berpikir apa yang akan dilakukan, Kala sudah hamper menjangkaunya. Kemudian, Dewi Sri Kembang menyumpahi Betara Kala. Seketika itu juga, Kala berubah menjadi seekor binatang.

Sri Kembang yang merasa lega karena terlepas dari bahaya, segera mengucapkan pujian kepada Sang Hyang Tunggal, penguasa seluruh alam semesta yang tampak dan tidak tampak. Kemudian, ia menyatukan diri dengan bumi, bersama-sama Luhwati, menjadi pelindung tanaman padi.

Demikian pembahasan tentang salah satu karya sastra Indonesia Prosa, Prosa seperti cerpen dan novel hingga sekarang masih ada dan terus berkembang seiring berkembangnya zaman, semoga karya sastra Indonesia tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Terima kasih.

Demikian pembahasan Prosa, hingga sekarang prosa adalah bentuk karya sastra yang masih berkembang dari masa kemasa dengan berbagai jenis prosa seperti cerpen dan novel. semoga informasi seputar prosa ini bermanfaat dan menambah wawasan dalam karya sastra Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *