Pengertian Puisi : Karakteristik, Pendekatan,Ciri-ciri , dan Contoh Puisi Terkenal Indonesia

By | 2022-09-07
pengertian-puisi

Pengertian PuisiKarya sastra di Indonesia memiliki jenis beraneka ragam. Salah satu karya sastra yang masih berkembang dan dapat dinikmati oleh pembaca saat ini adalah puisi. Puisi selalu identik dengan bahasa yang arkais dan menggunakan gaya bahasa tertentu sesuai dengan kekhasan penyairnya.

Tetapi apakah kamu sudah benar-benar memahami pengertian puisi secara luas? sebelum kamu belajar untuk membaca puisi, sebaiknya perlu memahami tentang pengertian puisi dan tujuan puisi terlebih dahulu.

 

Pengertian Puisi

Secara etimologi, pengertian puisi adalah sebagai kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu poeima atau poesis yang berarti membaut atau pembuatan. Dalam proses pembuatannya, penyair menggunakan kata sebagai media penyampaiannya. Peran kata dalam puisi dapat dibandingkan dengan nada dan irama pada seni music, serta gerak dan irama pada seni tari.

Pengertian Puisi menurut Hudson dalam Aminuddin (1987:134) Puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi. Kata-kata yang digunakan oleh penyair berisi ungkapan perasaan penyair, mengandung rima dan irama, serta diungkapkan melalui diksi yang cermat, tepat, dan indah.

  Baca Juga : Pengertian Peribahasa

Karakteristik Puisi

Karakteristik puisi adalah dapat terlihat dari bahasa yang digunakan serta wujud dari puisi itu sendiri. Bahasa puisi mengandung rima,irama, dan kiasan sehingga puisi memiliki kekuatan kata yang indah dan makna yang mendalam. Pada umumnya, wujud puisi dapat dilihat dari bentuknya yang berlarik membentuk bait, letaknya tertata, dan tidak mementingkan ejaan.

Namun, ada pula penyair yang mengabaikan ketiga bentuk puisi tersebut. Pengabaian itu terjadi karena penyair memiliki hak licentia poetica,  yaitu hak untuk memilih cara penyampaian ide dan gagasan dalam puisi meskipun menyalahi kaidah bahasa yang berlaku. Walaupun seperti itu, pada dasarnya ada empat pilar dasar dalam puisi yaitu: tema, perasaan penyair, nada puisi, dan amanat.

 

Pendekatan Mengapresiasi Puisi

Pendekatan mengapresiasi adalah pembelajaran yang menekankan pada aspek penghayatan dan pemahaman melalui pengamatan secara mendalam. Dalam memahami puisi secara utuh, dibutuhkan pendekatan dalam mengapresiasinya. Pendekatan mengapresiasi puisi pada hakikatnya merupakan seperangkat asumsi dan prinsip yang berkaitan dengan sifat-sifat puisi.

Pendekatan terhadap puisi terbagi dalam beberapa pendekatan sebagai berikut:

Pendekatan Parafrasis

Pada dasarnya, pendekatan parafrasis puisi adalah menggunakan kata-kata yang cenderung kias dan padat. Oleh karena itu, pembaca pemula mengalami kesulitan dalam memahami isi dan pesan dari sebuah puisi. Pendekatan yang tepat bagi pemula  adalah mengungkapkan Kembali ide dan gagasan yang akan disampaikan penyair dalam bentuk baru dengan cara menyisipkan kata atau kelompok kata agar makna puisi menjadi lebih jelas maknanya.

Pendekatan Emotif

Pendekatan emutif puisi adalah berusaha mengunggah psikologi, emosi, dan perasaan pembaca. Berkaitan dengan keindahan penyajian bentuk, pesan, dan isi gagasan dari sebuah puisi. Dengan pendekatan emotif, pembaca dapat mengetahui bagaimana penyair menampilkan keindahan sebuah puisi. Pendekatan puisi ini relevean dalam memahami puisi yang berjenis humor, satire, serta sarkastis.

Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis puisi adalah menekankan pemahaman isi puisi melalui unsur intrinsik pembentuk puisi. Unsur instristik merupakan unsur yang secara langsung membangun puisi dari dalam karya itu sendiri. Unsur intrinsik puisi mencakup tema, amanant, nada, rima, perasaan, gaya bahasa, tipografi, enjabemen, akulirik, dan citraan.

Terdapat empat macam citraan yaitu Visual Imagery, Auditory imagery, Smell imagery, Tacticle imagery.

Pendekatan Didaktis

Pendekatan Didaktis puisi adalah berdasarkan pada nilai-nilai Pendidikan yang terdapat dalam puisi. Pendekatan ini berusaha menemukan nilai-nilai Pendidikan yang terkandung dalam sebuah puisi. Pendekatan didaktis membutuhkan ketelitian, kepekaan, dan intelektualitas dari pembaca untuk dapat menerjemahkan isi puisi.

Pendekatan Sosiopsikologis

Pendekatan Sosiopsikologis puisi adalah ini berupaya mengetahui kehidupan social, budaya, serta kemasyarakatan yang tertuang dalam puisi. Puisi yang dapat dipahami menggunakan pendekatan sosiopsikologis serta pendekatan didaktis adalah puisi naratif.

 

Jenis-Jenis Puisi

 

Berdasarkan Periode kemunculannya,  jenis-jenis puisi terbagi menjadi tiga periode, yaitu puisi lama dan puisi baru, ditambah dengan puisi modern. Berikut ini adalah pembahasan masing-masing jenis puisi tersebut

 

Puisi lama

Puisi lama muncul jauh bahkan sebelum masa penjajahan Belanda. Oleh karena itu, puisi lama masih kental dengan ciri khas melayu. Puisi lama memiliki beberapa aturan, yaitu : jumlah suku kata dalam setiap baris, jumlah kata dalam setiap baris, jumlah baris dalam setiap bait, rima atau persajakan, dan irama.

Ciri-Ciri Puisi lama

 

  • Merupakan puisi rakyat yang anonym ( tidak dikenal nama pengarangnya)
  • Sastra lisan ( disampaikan dari mulur ke mulut)
  • Terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

 

Jenis-jenis puisi lama

  • Puisi mantra – adalah puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak dengan adat dan kepercayaan.
  • Pantun – adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurus isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
  • Karminat – adalah pantun kilat, seperti pantun tetapi pendek
  • Seloka – adalah pantun berkait
  • Gurindam – adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
  • Syair – adalah puisi yang bersumber dari arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
  • Talibun – adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6,8, atau pun 10 baris.

 

Puisi Baru

Puisi baru memiliki bentuk lebih luas daripada puisi lama baik dari dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-ciri puisi baru

  • Bentuknya rapi,simetris
  • Mempunyai persajakan akhir ( yang teratur)
  • Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain
  • Sebagian besar puisi empat seuntai:
  • Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra atau kesatuan sintaksis
  • Tiap gatranya terdiri atas dua kata ( Sebagian besar) 4-5 suku kata

Jenis-Jenis puisi baru

Jenis-jenis puisi baru dibedakan menurut isinya, jenisnya adalah sebagai berikut: Balada adalah puisi yang berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan delapan larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh puisi jenis ini adalah Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.

Himne

Himne adalah jenis puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang Dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater.

Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang, himne diartikan sebagai puisi yang di nyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati.

Contoh Puisi :

bahkan batu-batu yang keras dan bisu

mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

menggeliat derita pada lekuk dan liku

Bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

Menitikkan darah dari tangan dan kaki

Dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa lukaluka yang lebar terbuka

Dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

Mengenal-Mu tersalib di dalam hati.

(Saini S.K)

 

Ode

Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi, bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.

Contoh puisi:

Generasi sekarang

Di atas puncak gunung fantasi

Berdiri aku, dan dari sana

Mandang ke bawah, ke tempat berjuang

Generasi sekarang di Panjang masa

Menciptakan kemegahan baru

Pantun keindahan Indonesia

Yang jadi kenang-kenangan

Pada zaman dalam dunia

(Asmara Hadi)

 

Epigram

Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari bahasa Yunaniepigramma yang berarti unsur pengajaran, didaktif, nasihat membawa kearah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.

Contoh puisi :

Hari ini taka da tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang didepan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

(Iqbal)

 

Romansa

Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih saying, rindu dendam, serta kasih mesra.

Elegi

Eledi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.

Contoh puisi :

Senjata Pelabuhan Kecil

ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara Gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

Menyisir semenanjung, masih pengap harap

Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)

 

Satire

Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa latin Satura yang berarti sindiran, kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena, tidak puas hati satu golongan.

Contoh puisi :

Aku bertanya

Tetapi pernyataan-pernyataanku

Membentur jidat penyair-penyair salon,

Yang bersajak tentang anggur dan rembulan.

Sementara ketidakadilan terjadi

Di sampingnya,

Dan delapan juta kanak-kanak tanpa Pendidikan,

Termangu-mangu dl kaki dewi kesenian

(WS Rendra)

 

Jenis puisi baru berdasarkan bentuknya

Distikon – adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai)

Contoh puisi :

Berkali kita gagal

Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh

Kembali berdiri jangan mengeluh

(Or.Mandank)

Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri dari tiga baris ( puisi tiga seuntai)

Contoh puisi:

Dalam ribaan Bahagia dating

Tersenyum bagai kencana

Mengharum bagai cendana

Dalam Bahagia cinta tiba melayang

Bersinar bagai matahari

Bersinar bagai matahari

Mewarna bagaikan sari

(Sanusi Pane)

Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri dari empat baris ( puisi empat seuntai)

Contoh puisi :

Mendatang-datang jua

Kenangan masa lampau

Menghilang muncul jua

Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua

Abi kanda lama lalu

Membuat hati jua

Layu lipu rindu-sendu

(A.M Daeng Myala)

Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri dari lima baris (puisi lima seuntai)

Contoh puisi :

Hanya Kepada Tuan

Satu-satunya perasaan

Hanya dapat saya katakana

Kepada tuan

Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan

Yang saya serahkan

Hanya dapat saya kisahkan

Kepada tuan

Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan

Yang bisa dirasakan

Hanya dapat saya nyatakan kepada tuan

Yang enggan menerima kenyataan

(Or. Mandank)

Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri dari enam baris ( puisi enam seuntai)

Contoh puisi :

Merindu Bagia

Jika hari’lah tengah malam

Angin berhenti dari bernapas

Sukma jiwaku rasa tenggelam

Dalam laut tidak berwatas

Menangis hati diiris sedih

(Ipih)

Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri dari tujuh baris (tujuh seuntai)

Contoh puisi :

Indonesia Tumpah Darahku

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijauh

Gunung gemunung bagus rupanya

Ditimpa air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia Namanya

(Mohammad Yamin)

Oktaf/stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri dari atas delapan baris ( Double kutrain atau puisi delapan seuntai)

Contoh puisi:

Awan

Awan dating melayang perlahan

Serasa bermimpi, serasa berangan

Bertambah lama, lupa di diri

Bertambah halus akhirnya seri

Dan bentuk menjadi hilang

Dalam langit biru gemilang

Demikian jiwaku lenyap sekarang

Dalam kehidupan teguh tenang

(Sanusi Pane)

Soneta, adalah puisi yang terdiri dari atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait pertama masing-masing empat bars dan dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta berasal dari kata sonnet ( Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara.

Jadi sonata adalah puisi yang bersuara. Di Indonesia sonata masuk dari negeri belanda diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itulah mereka berdualah yang dianggap sebagai “pelopo/Bapak sonata Indonesia”. Bentuk sonata Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat sonata italia atau inggis, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya ( empat belas baris)

Contoh puisi:

Gembala

Perasaan siapa ta’kan nyala

Melihat anak berelagu dendang

Seorang saja di tengah padang

Tiada berbaju buka kepala

Beginilah nasib anak gembala

Berteduh dibawah kayu nan rindang

Semenjak pagi meninggalkan kendang

Pulang ke rumah di senja kala

Jauh sedikit sesayup sampai

Terdengar olehku bunyi serunai

Melagukan alam nan molek permai

Wahai gembala di segara hijau

Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau

Maulah aku menurutkan dikau

(Muhammad Yamin)

 

Puisi modern

Puisi modern berkembang di Indonesia pasca kemerdekaan. Berdasarkan cara pengungkapannya, dikenal adanya puisi kontemporer. Kata kontemporer secara umum bermakna masa kini sesuai dengan perkembangan zaman atau selalu menyesuaikan dengan perkembangan keadaan zaman.

Selain itu, puisi kontemporer dapat diartikan sebagai puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir. Puisi kontemporer berusaha lari dari ikatan konvensional puisi itu sendiri. Puisi kontemporer sering kali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa, memakai kata-kata makin kasar, ejekan, dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi, gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggap tidak begitu penting lagi.

Tokoh-tokoh puisi kontemporer di Indonesia saat ini, yaitu sebagai berikut :

  • Sutardji Calzoum Bachri dengan tiga kumpulan puisinya O, Amuk, dan O Amuk Kapak
  • Ibrahim Sattah dengan kumpulan puisinya Hai Ti
  • Hamid Jabbar dengan kumpulan puisinya Wajah Kita

 

Jenis-jenis Puisi Kontemporer

Puisi Mantra

Puisi mantra adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra. Sutardji Colzoum Bachri adalah orang yang pertama memperkenalkan puisi mantra dalam puisi kontemporer.

Ciri-ciri puisi mantra adalah :

  • Mantra bukanlah sesuatu yang dihadirkan untuk dipahami melainkan sesuatu yang disajikan untuk menimbulkan akibat tertentu
  • Mantra berfungsi sebagai penghubung manusia dengan dunia misteri
  • Mantra mengutamakan efek atau akibat berupa kemanjuran dan kemanjuran itu terletak pada perintah.

Contoh puisi :

Shang Hai

Ping diatas pong

Pong di atas ping

Ping ping bilang pong

Pong pong bilang ping

Mau pong? Bilang ping

Mau mau bilang pong

Mau ping? Bilang pong

Mau mau bilang ping

Ya pong ya ping

Ya ping ya pong

Tak ya pong tak ya ping

Sembilu jarakMu merancap nyaring

(Sutardji Calzoum Bachri dalam O Amuk Kapak, 1981)

 

Puisi Mbeling

Puisi mbeling adalah bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Aturan puisi yang dimaksud adalah ketentuan-ketentuan yang umum berlaku dalam puisi. Puisi muncul pertama kali dalam majalah aktuil yang menyediakan lembar khusus untuk menampung sajak, dan oleh pengasuhnya Remy Silado, lembar tersebut diberi nama “Puisi Mbelling”.

Kata-kata dalam puisi mbeling tidak perlu dipilih-pilih lagi. Dasar puisi mbeling adalah main-main

Ciri-ciri puisi mbeling:

  • Mengutamakan unsur kelakar, pengarang memanfaatkan semua unsur puisi berupa bunyi, rima, irama, pilihan kata dan tipografi untuk mencapai efek kelakar tanpa ada maksud lain yang di sembunyikan (tersirat)
  • Menyampaikan kritik social terutama terhadap system perekonomian dan pemerintahan
  • Menyampaikan ejekan kepada para penyair yang bersikap sungguh-sungguh terhadap puisi. Dalam hal ini taufik ismail menyebut puisi mbeling dengan puisi mengkritik puisi.

Contoh puisi :

Sajak Sikat Gigi

Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur

Di dalam tidur ia bermimpi

Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka

Ketika ia bangun pagi hari

Sikat giginya tinggal sepotong

Sepoting yang hilang itu agaknya

Terserat di dalam mimpinya dan tak bisa Kembali

Dan ia berpendapat bahwa, kejadian itu terlalu berlebih-lebihan

(Yudhistira Ardi Nugraha dalam Sajak Sikat Gigi, 1974)

Puisi konkret

Puisi konkret adalah puisi yang disusun dengan mengutamakan bentuk grafis berupa tata wajah hingga menyerupai gambar tertentu. Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat lambing-lambang yang diwujudkan dengan benda dan gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyairnya.

Contoh Puisi:

Doktorandus Tikus I

Selusin toga Gambar

                        Me

                                    Nga

                                                Nga

Seratus tikus berkampus

                                                            Di atasnya

            Dosen dijerat

Profesor diracun

            Kucing

                        Kawin

                                    Dan bunting

Dengan predikat

            Sangat memuaskan

( F.Rahardi dalam soempah WTS, 1983)

Penyusunan puisi kontemporer sebagai puisi inkonvensional ternyata juga perlu memperhatikan beberapa unsur-unsur berikut ini:

  • Unsur bunyi, meliputi penempatan persamaan bunyi (rima) pada tempat-tempat tertentu untuk menghidupkan kesan dipadu dengan repetisi atau pengulangan-pengulangannya.
  • Tipografi : meliputi penyusunan baris-baris puisi berisi kata atau suku kata yang disusun sesuai dengan gambar atau pola tertentu.
  • Enjambement : meliputi pemenggalan atau perpindahan baris puisi untuk menuju baris berikutnya.
  • Kelakar (parodi) : meliputi penambahan unsur hiburan ringan sebagai pelengkap penyajian puisi yang pekat dan penuh perenungan.

 

Kumpulan Contoh Puisi

Penerimaan

(Chairil Anwar, Maret 1943)

Jika kau mau, kuterima kau Kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Jika kau mau, kuterima kau Kembali

Tapi untukku sendiri

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

 

Aku

(Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Tak Sepadan

(Chairil Anwar, Februari 1943)

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

 

Sendiri

(Chairil Anwar, 1943)

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa malam apa lagi

Ia memekik ngeri

Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala

Yang minta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga

Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?

Ah! Lemah lesu ia tersedu : Ibu! Ibu!

 

Derai-derai Cemara

(Chairil Anwar, 1949)

Cemara menderai sampai jauh

Terasa hari akan jadi malam

Ada beberapa dahan di tingkap merapuh

Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi

Tapi dulu memang ada suatu bahan

Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan

Tambah terasing dari cinta sekolah rendah

Dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Karawang-Bekasi

(Chairil Anwar, 1948)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi

Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

Terbayang kami maju dan mengedap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti

4-5 ribu nyama

Kami Cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan

Dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

Menjaga Bung Hatta

Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus digaris batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami

Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

 

Di Masjid

(Chairil Anwar)

Kuseru saja Dia

Sehingga dating juga

Kamipun bermuka-muka

Seterusnya ia menyala-nyala dalam dada

Segala daya memadamkannya

Bersimpah peluh diri yang tidak bisa diperkuda

Ini ruang

Gelanggang kami berperang

Binasa membinasa

Satu menista lain gila

 

Yang Terampas Dan Yang Putus

(Chairil Anwar, 1949)

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,

Menggigir jaga ruang dimana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi ssemati tugu

Di karet, di Karet ( daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau dating

Dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu

Tapi kini hanya lengan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

 

Persetujuan Dengan Bung Karno

(Chairil Anwar, 1948)

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji

Aku sudah cukup lama dengan bicaramu

Dipanggang diatas apimu, digarami lautmu

Dari mulai tgl. 17 agustus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu

Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

 

Kupanggil Namamu

(WS Rendra)

Sambil menyebrangi sepi,

Kupanggil namamu, wanitaku

Apakah kau tak mendengar?

Malam yang berkeluh kesah

Memeluk jiwaku yang payah

Yang resah

Karena memberontak terhadap rumah

Memberontak terhadap adat yang latah

Dan akhirnya tergoda cakrawala

Sia-sia kucari pancaran matamu

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa

Sia-sia

Tak ada yang bisa kucamkan

Sempurnalah kesepianku

Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi

Dan duabelas ekor serigala

Muncul dari masa silamku

Merobek-robek hatiku yang celaka

Berulangkali kupanggil namamu

Dimanakah engkau wanitaku?

Apakah engkau sudah menjadi masa silamku?

 

Tuhan, Aku Cinta Padamu

(WS Rendra)

Aku lemas

Tapi berdaya

Aku tidak sambat rasa sakit

Atau gatal

Aku pengin makan tajin

Aku tidak pernah sesak nafas

Tapi tubuhku tidak memuaskan

Untuk punya posisi yangn ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku

Dari racun kimiawi

Aku ingin Kembali pada jalan alam

Akui ingin meningkatkan pengabdian

Kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Dengan Puisi Aku

(Taufiq Ismail)

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbaur cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Napas jaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenalkanlah kiranya

Sebuah Jaket Berlumur Darah

(Taufiq Ismail)

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah pergi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita

Dibawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’

Berkira setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendara yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli Pelabuhan

Teriakan-teriakan di atas bis Kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

Lanjutkan perjuangan

 

Syair Orang Lapar

(Taufiq Ismail)

Lapar menyerang desaku

Kentang dipanggang kemarau

Surat orang kampungku

Kuguratkan kertas

Risau

Lapar lautan pidato

Ranah dipanggang kemarau

Ketika berduyun mengemis

Kesinikan hatimu

Kuiris

Lapar di Gunungkidul

Mayat dipanggang kemarau

Berjajar masuk kubur

Kauulang jua

Kalau

 

Karangan Bunga

(Taufiq Ismail)

Tiga anak kecil

Dalam Langkah malu-malu

Datang ke salemba

Sore itu.

Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kaka yang ditembak mati

Siang tadi.

 

Salemba

(Taufiq Ismail)

Alma Mater, janganlah bersedih

Bila arakan ini bergerak pelahan

Menuju pemakaman siang ini.

Anakmu yang berani

Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani.

 

Memang Selalu Demikian, Hadi

(Taufiq Ismail)

Setiap perjuangan selalu melahirkan

Sejumlah pengkhianat dan para pernjilat

Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita

Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang

Jangan kau kecewa, hadi

Setiap perjuangan yang akan menang

Selalu mendatangkan pahlawan-pahlawan jadi-jadian

Dan para jagoan kesiangan.

Memang demikianlah halnya, Hadi

 

Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua

pada Anaknya Berangkat Dewasa

(Taufiq Ismail)

jika adalah harus kau lakukan

ialah menyampaikan kebenaran

jika adalah yang tidak bisa dijual belikan

ialah yang Bernama keyakinan

jika adalah yang harus kau tumbangkan

ialah segala pohon-pohon kezaliman

jika adalah orang yang harus kau agungkan

ialah hanya Rasul Tuhan

jika adalah kesempatan memilih mati

ialah syahid di jalan Ilahi

 

Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini

(Taufiq Ismail)

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dan pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juga yang bertahan hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang Namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

 

Kemerdekaan

(Toto Sudarto Bachtiar)

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua suara

Janganlah takut padanya

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara

Janganlah takut padaku

Kemerdekaan ialah cintaku berkepanjangan jiwa

Bawalah daku kepadanya

 

Diantara Kanal

(Goenawan Mohamad)

Jarimu menandai sebuah percakapan

Yang tak hendak kita rekam

Di hitam sotong dan gelas sauvignon blanc

Yang akan ditinggalkan

Di kiri kita kanal menyusup

Dari lau. Di jalan para kelasi

Malam seakan-akan membiru.

“Meskipun esok lazuardi” Katamu

Aku dengar. Kita kenal

Kegaduhan di aspal ini.

Kita tahu banyak hal.

Kita tahu apa yang sebentar

Seseorang pernah mengatakan

Kita telah disandingkan

Sejak penghuni terutama ghetto Yahudi

Membangun kedai.

Tapi kau tahu aku akan melepasmu di sudut itu,

Tiap malam selesai, dan aku tahu kau akan pergi.

“Kota Ini” katamu, “adalah jam

Yang digantikan matahari”

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *