Pantun: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, dan 101 Contoh Pantun

By | 2022-09-11
Pantun: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, dan 101 Contoh Pantun SIPANTUN

Pantun – Masyarakat Semenanjung Melayu yang di dalamnya terdapat Negara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam mengenal sebuah tradisi lisan yang disebut dengan pantun. Tidak hanya daerah melayu, pantun juga banyak digunakan dengan berbagai isttilah lain tetapi dengan ciri khas yang sama dan tujuan yang sama.

Namun penggunaan pantun dalam kehidupan sehari-hari ternyata lebih luas lagi, bahkan zaman dahulu Ketika ingin mendekati seorang wanita, maka seorang pria akan mengutarakannya lewat pantun, atau bahkan perkelahian seseorang dengan seseorang masih terdengar susunan pantun didalamnya. Maka dari itu kita akan membahas pantun lebih dalam lagi agar lebih memahaminya sebagai sebuah karya sastra peninggalan dahulu yang tetap digunakan sampai sekarang.

Pengertian Pantun

Pantun merupakan karya sastra yang berbentuk fiksi yang mana setiap kata yang disampaikan untuk membentuk suatu rima demi tujuan menambah estetika pada pantun itu sendiri, serta berbentuk tulisan dan disampaikan secara lisan

Pantun adalah satu corak komunikasi berseni yang digunakan di tempat tertentu, dalam upacara tertentu atau untuk menyampaikan sesuatu dalam maksud kiasan atau sindiran. Selain itu terdapat juga definisi lainnya dari berbagai macam ahli sebagai berikut:

Menurut Suseno (2006). Pantun adalah dari bentuk puisi lama, hamper merata dikenal di seluruh penjuru tanah air, walaupun diucapkan dalam bahasa daerah. Menjadi sebuah tradisi lisan dan menjadi jiwa serta menjadi salah satu identitas masyarakat nusantara dalam berkomunikasi.Menurut Renward Branstetter, pantun berasal dari kata “PAN” yang berarti “sopan/beretika’, dan kata “TUN” yang berarti “santun/teratur”.

Sedangkan Andriani memberikan definisi pantun berdasalkan tiga hal. Pertama, pantun adalah bentuk pengungkapan rasa hati dan pemikisan yang khas bangsa melayu dan mempunyai sifat multibudaya, multi bahasa, multi agama, dan multi ras.  Kedua, pantun tidak terikat dengan Batasan usia, jenis kelamin, stratifikasi sosial, dan berhubungan darah. Ketiga, pantun digunakan dalam berbagai tempat dan dalam berbagai macam kondisi sosial.

Poedjawijatna ( Andriani, 2012) juga menjelaskan bahwa untuk menyatakan kasih saying, benci atau tidak suka, tidaklah mudah apa lagi harus disampaikan secara langsung. Namun jika dengan menggunakan pantun, mengucapkan, menungkap rasa dan menyampaikan sindiran akan lebih mudah karena dapat “mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit”.

 Baca juga : Pengertian Puisi

 

Asal kata Pantun

Banyak pendapat tentang asal kata pantun. Terdapat beberapa pendapat terkait asal akta pantun sebagai berikut.

  • Kata pantun berasal dari kata umpama, missal, seperti.
  • Kata pantun berasal dari bahasa jawa, yaitu pantun atau pari. Pantun atau pari berarti padi.
  • Kata pantun berasal dari kata Vtun. Kata Vtun berasal dari bahasa kawi tuntun atau tuntunan yang berarti mengatur. Dalam bahasa Filipina tuntun berarti teratur. Dalam bahasa tagalok tuntun berarti bicara menurut aturan tertentu. Dengan kata lain, pantun berarti aturan atau susunan.

Ciri-ciri Pantun

Semua puisi lama yang mempunyai empat larik tidak semuanya disebut sebagai pantun. Agar dapat disebut pantun harus memenuhi ciri-ciri tertentu. Silahkan simak contoh-contoh berikut

 

Contoh pertama

Kalau mengail di lubuk dangkal,

Dapat ikan penuh seraga.

Kalua kail Panjang sejengkal

Jangan lautan hendak diduga

 

Contoh kedua

Rumah kecil tiang seribu

Rumah besar tiang sebatang

Kecil-kecil ditimang ibu,Sudah besar ditimang gelombang

 

Kedua contoh diatas mempunyai empat larik. Larik pertama dan ketiga contoh pertama mempunyai bunyi akhir kal dari kata dangkal dan Sejengkal. Larik kedua dan keempat contoh pertama mempunyai bunyi akhir ga dari kata seraga dan diduga. Larik pertama dan ketiga pada contoh 2 mempunyai bunyi akhir bu dari kata seribu dan ibu. Larik kedua dan keempat contoh kedua mempunyai bunyi akhir ng dari kata sebatang dan gelombang.

Berdasarkan kedua contoh diatas tersebut, dapat disimpulkan tentang ciri-cirinya. Setiap pantn harus memenuhi ciri-ciri yang ditetapkan. Berikut ini merupakan ciri-ciri pantun.

  • Tiap bait (kumpulan larik dalam pantun) terdiri atas empat larik ( bairs atau deret)
  • Tiap larik terdiri atas empat sampai enam kata
  • Tiap larik terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata
  • Larik pertama dan kedua merupakan sampiran
  • Larik ketiga dan keempat merupakan isi
  • Rima (persamaan bunyi atau persajakan) akhir larik bersajak adab.
  • Bunyi akhir larik pertama dan ketiga harus sama. Bunyi akhir larik kedua dan keempat juga harus sama. Perlu diketahui bunyi akhir larik pertama dan ketiga tidak sama dengan larik kedua dan keempat
  • Isinya untuk mengungkapkan perasaan.

Perlu diketahui ada beberapa jenis puisi lama yang bentuknya mirip dengan pantun, seperti seloka, karmina, pantun berkait, dan talibun mempunyai sampiran dan isi. Hal yang membedakannya adalah puisi-puisi lama tersebut mempunyai larik yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan.

 

Kemunculan Awal Pantun

Kemunculan pantun awalnya dimulai oleh kebiasaan masyarakat Melayu yang senang menggunakan kiasan. Bagi masyarakat pada waktu itu, kiasan itu penting untuk menyampaikan maksud. Salah satu kiasan yang digunkana adalah pantun. Pantun digunakan dalam setiap acara, baik acara pertemuan, pernikahan, maupun  acara adat.

Pantun bagi mereka merupakan alat komunikasi yang sangat penting. Oleh karena itu, dahulu pantung dapat dijadikan alat untuk mengukur seberapa pandai seseorang. Biasanya orang yang cakap dalam berpantun dianggap sebagai orang pandai. Sebaliknya, jika ada orang yang tidak dapat berpantun, maka ia dianggap bodoh.

Semakin lama pantun semakin berkembang. Akhirnya tersusunlah pantung yang sekarang kita kenal. Pantun yang terdiri atas empat larik.sampiran pada baris pertama dan kedua dimaksudkan sebagai pengantar agar pembaca mau membaca lark ke tiga dan keempat. Sebaliknya, isi merupakan maksud atau tujuan pantung. Bentuk isi dapat berbagai macam seperti pikiran, perasaan, nasihat, kebenaran, pertanyaan, atau teka-teki. Isi pantun juga mengandung pesan yang disampaikan oleh pemantun kepada orang lain

Jenis-Jenis Pantun

 

Pantun yang dikenal sekarang dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis pantun dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. Pengelompokan pantung berdasarkan isi berkaitan erat dengan lingkungan pemakai pantun. Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi beberapa bagian. Jenis-jenis tersebut dapat dilihat dalam penjelasan berikut :

jenis-jenis pantun

Pantun anak-anak

Pantun anak-anak berisi tentang dunia anak-anak. Umumnya digunakan anak-anak pada saat bermain atau bersenda gurau. Pantun ini menggambarkan perasaan yang di alami anak-anak. Perasaan yang dialami biasanya adalah perasaan sukacita dan dukacita. Oleh karena itu, pantun anak dibagi menjadi sukacita dan dukacita.

 

Pantun Sukacita

Berisi ungkapan yang menyatakan sukacita atau kegembiraan. Perasaan sukacita bisa terjadi dalam semua kejadian atau peristiwa. berikut adalah contohnya

 

Kegembiraan Saat Bertemu Keluarga

 

Bintang kecil dilangit biru,

Sangat indah bila dipandang

Kini hatiku menjadi haru

Mendengar ibu segera pulang.

            Elok rupanya kumbang janti

            Dibawa itik pulang petang

            Tidak terkata besarlah hati,

            Melihat ibu sudah dating

Itik jingga pulang petang,

Lewat rumput jangan sampai luka.

Melihat ayah sudah datang,

Hati cemas berganti suka.

            Pohon manga banyaklah batang

            Begitu pula pohon jati.

            Bunda sampai ayah pun datang

            Kami semua senanglah hati.

 

Saat Mendapat Barang Baru

Orang lari terburu-buru

Dikejar kijang lari kesana

Lihatlah lihat ini baju baru

Tidak hanya baju juga celana

            Anak macan di tepi hutan

            Masuk ke kendang memakan pisang

            Senang hati tidak tertahan

            Mendapat baju juga selendang

Saya memang pandai menari

Semua tari saya tarikan,

Ini sepatu-sepatu tari

Ayahku saying yang membelikan

Saat Bermain

Lihatlah lihat seorang peri

Peri berteman dengan Bima

Mari teman mari kemari

Ayo kita bermain Bersama

            Memetik manga di malam sunyi,

            Jangan dimakan di pinggir api

            Ayok teman kita bernyanyi

            Bernyanyi-nyanyi hilang lah sepi

Menyimpan buah di dalam peti,

Peti dibawa di depan muka

Janganlah teman bersedih hati,

Jika bersedih hilanglah suka

Mengungkapkan rasa sayang kepada keluarga

Hitam-hitam si buah manggis,

Biar hitam manis rasanya.

Cup-cup jangan menangis

Ini kakak membawa srikaya

            Sayang pisang tiada berjantung

            Bunga keluar dari kelopak

            Penat sangat ibu mendukung

            Adik juga tak mau gelak(tertawa)

Tengah rembang panas teduh,

Peluh badan habis bertitik.

Ayolah adik jangan mengeluh,

Lihat ibu sudah balik

 

Pantun Dukacita

Berisi ungkapan yang menyatakan perasaan sedih atau duka. Perasaan sedih saat ditinggal orang tua. Sedih saat meratapi nasib yang yatim piatu atau sedih karena mempunyai orang tua tiri.

Contohnya adalah sebagai berikut:

Pohon jati di tepi batu

Tumbuh rimbun menjadi pagar

Menangis adik di depan pintu

Melihat ibu pergi ke pasar

            Lurus jalan ke kota kana

            Kalua masuk ditarik pajak

            Hati siapa yang tak merana

            Ditinggal ayah pergi mendadak

Lihatlah lihat mangga itu,

Tumbuh lebat di tepi ara

Saya ini yatim piatu,

Tak ada teman lagi saudara

            Ayo teman marilah maju

            Mari maju ke Belanda

            Semua orang memakai baju

            Hanya aku bertelanjang dada

Jalan-jalan ke kota panda,

Lihat itik berlari-lari

Bunda mati bapak tida

Kini aku tinggal sendiri

            Pinang tua tidak membeli,

            Buah rotan di dukungannya

            Orang tua tidak peduli

            Akan kesakitan anak kandungnya.

Buah manga di Tanah Sirah

Masak sedikit bawakan bakul

Bapa saya sangat pemarah

Salah sedikit suka memukul

            Jawi hitam tidak bertanduk,

            Memakan rumput di depan pintu

            Lihatlah ayam tidak berinduk,

Demikian aku hidup piatu

Bunga cempaka ditebang rebah.

Kaki sudah bercendawan

Bunda kita pergi ke sawah

Adik di rumah tidak berkawan

 

Pantun Remaja atau Dewasa

Pantun remaja atau dewasa umumnya digunakan oleh orang dewasa, termasuk juga remaja. Pantun dewasa menggambarkan kehidupan orang dewasa dan remaja. Tema pantun ini biasanya bercerita tentang cinta dan perjuangan mencari nafkah. Tema yang diangkat dalam pantun ini sesuai dengan kehidupan yang dilalui orang dewasa yang mengenal cinta, berkasih-kasihan, kemudian berpisah, beriba hati, dan harus mencari nafkah. Oleh karena itu pantun dewasa atau remaja dibagi menjadi beberapa jenis.

 

Pantun Perkenalan

Dahulu jenis ini digunakan oleh pemuda untuk berkenalan dengan pemudi yang ia temui. Oleh sebab itu, pantun perkenalan boleh disebut sebagai pembuka jalan untuk mengawali percintaan. Selain itu juga berisi ungkapan perasaan hati untuk berkenalan.

Pantun perkenalan memiliki peran penting dalam hubungan kebudayaan indonesia. karena pantun perkenalan biasanya tidak hanya digunakan ketika seseorang ingin berkenalan baik itu kepada keluarga pasangan ketika bertemu pertama kali secara adat.

Namun juga memiliki peran penting dalam dalam pertemuan budaya yang walau berbeda bahasa namun tetap memilki makna pantun yang sama. Biasanya juga berisi sanjungan atau pujian terhadap orang yang akan diajak berkenalan. Pantun perkenalan harus dibuat dengan hati-hati. Jangan sampai pantun yang digunakan malah menyinggung perasaan orang lain.

 

Berikut ini adalah contoh pantun perkenalan :

Jalan-jalan ke pasar ikan.

Tidak lupa membeli kerrang

Wahai kawan bolehkah kenalan

Banyak kawan hati pun senang

                   Ikan laut enak rasanya

                   Bila dimasak bisa makan

                   Mendapat kawan senang rasanya

                   Tentu boleh kita berkenalan

Ikan pari hidup di kali,

Ikan hiu jadi seteru

Aku sungguh senang sekali

Melihat adik berbaju biru

                   Bunga kembang berawna biru

                   Tumbuh indah di atas beroya

                   Adik cantik berbaju biru

                   Boleh tahu siapa Namanya

Burung merpati terbang melayang

Terbang melayang membawa dadu

Aku datang dari semarang

Ingin bertemu si buah rindu

                   Bunga mawar milik tuan,

                   Mawar dibeli dari Surabaya

                   Kalau boleh abang berkenalan,

                   Adik cantik siapa yang punya

Bunga mawar di tepi jalan

Jalan indah di tepi pulau

Bolehlah abang datang berkenalan

Asalkan abang tidak bergurau

                   Apa guna pasang realita

                   Jika tidak dengan sumbunya

                   Apa guna bermain mata.

                   Kalua tidak ada maunya

Indah balai raja belanda

Raja berjalan kesana kemari

Jika sungguh kata adinda

Bolehlah kanda datang kesini

                   Panjang ruasnya kaki kuda,

                   Buah berangan dalam jembangan

                   Asalkan puas di hati kanda

                   Jangan mencinta berkepanjangan 

 

Pantun berkasih-kasihan

Selain perkenalan, pemuda-pemudi itu bisa berkasih-kasihan. Pantun berkasih-kasihan biasanya berisi curahan hati, perasaan senang, perasaan tidak ingin berpisah, pujian, dan sanjungan.

Contohnya sebagai berikut

Bunga mawar indah jelita

Bunga melati di dalam hati

Mau tahu asalnya cinta

Dari mata turun ke hati

                   Menanam padi di tepi ladang

                   Sungguh indah dipandang mata

                   Boleh dicoba jikalau sayang,

                   Siapa tahu menjadi cinta

Pohon bambu beridri tegak,

Kena panas di siang hari

Makan tak enak tidur tak nyenyak

Teringat kau si jantung hati

                   Pergi ke sungai memandikan kerbau

                   Kerbau mandi bersih badannya

                   Jika sekarang kau tak mau

                   Akan kutunggu selamanya

Kalua kanda pergi ke seberang

Kirim dinda sebuah bunga

Kalua kanda menjadi kumbang

Tentu dinda menjadi bunga

                   Pergi ke pasar keranjang dibawa

                   Jangan lupa membeli pandan

                   Jika kanda menjadi nyawa

                   Maka adinda menjadi badan

Bukan kacang sembarang kacang

Kacang melilit kayu jati

Bukan datang sembarang datang

Datang melihat si jantung hati

                   Ambil gendang di kampung kandis

                   Ditabuhi ramai dengan biola

                   Makin dipandang semakin manis

                   Di lubuk hati semakin menyala

Batu loyang buat asahan

Batunya hitam sekuat jati

Bimbang siang boleh ditahan

Bimbang malam serasa mati

                   Banyak orang mengetam pulut

                   Jangan sampai menjadi mati

                   Banyak orang karam di laut

                   Saya sendiri karam di hati

 

Pantun Perpisahan

Disebut juga dengan pantun perceraian. Pantun perpisahan dibuat unutk menyatakan akhir dari hubungan berkasih-kasihan. Pantun ini berisi kenangan indah yang pernah di lalui, perasaan sedih, atau perasaan tidak ingin berpisah.

Contohnya sebagai berikut:

Membuat roti memakai

Jangan lupa diberi tanda

Kalua kanda terpaksa pergi,

Tinggal dinda menunggu kanda

                   Pucuk cemara di Laut Banda

                   Tajam cemara seperti pisau

                   Sungguh sedih hati adinda

                   Ditinggal kanda pergi merantau

Mendapat emas harus dibagi

Siapa tahu bisa berkembang

Kalaulah harus berpisah lagi

Hati ini sedih dan bimbang

                   Datang selasij berdiri tegak.

                   Berdaun lebat tidak merata

                   Jika bercerai katakan tidak

                   Meski harus berkorban harta

Naik ke gunung di tepi hutan

Gunungnya tinggi tidak terbayang

Hanya berjanji di atas tangan,

Janji yang lama sudahlah terbang

                   Kalua ada sumur di ladang

                   Boleh saya menumpang mandi

                   Kalau ada umur yang Panjang

                   Boleh kita berjumpa lagi

Bunga lada tingginya sama

Petik satu setangkai melati

Engkau pergi terlalu lama

Manalah sanggup aku menanti

                   Petik satu setangkal melati

                   Untuk hiasan sebuah pita

                   Tidak disangka akan begini

                   Kanda pergi taka da berita

Pucuk jauh selara pauh

Sembilu jadi diledungkan

Adik jauh kakanda jauh

Kalua rindu sama renungkan

                   Patah pasak di saat pagi

                   Patah di ruang bunga kiambang

                   Kalaulah tidak bertemu lagi

                   Bulan yang terang sama dipandang

Kayu mempoyan kulitnya manis,

Patah galah dalam paya

Laku wanita mulutnya manis

Bicara sepatah jangan dipercaya

                   Tinggi bukit Gunung Siantan,

                   Tempat orang mendapat telur

                   Kanda pergi dinda tak makan

                   Tinggal dendam tak bisa tidur

 

Pantun Beriba Hati

Menyatakan perasaan sedih ditinggal atau ditolak sang kekasih. Oleh karena itu, pantun beriba hati berisi penyesalan, kekecewaan, atau terkadang ancaman. Ada juga yang berisi pernyataan untuk mengasihani diri sendiri. Terkadang isi pantun beriba hati hamper sama dengan pantun perpisahan.

Berikut ini adalah contoh pantun beriba hati:

Jauh di rantau di tepi hutan,

Jauhnya hutan tiada berperi

Janganlah saya kanda tinggalkan

Setelah ditinggal ibalah diri

                   Harum sungguh bunga melati

                   Kembang setangkai di waktu pagi

                   Hancur sungguh rasa di hati

                   Sedang berkasih ditinggal pergi

Harum sungguh bunga melati,

Kembang setangkai di waktu pagi

Hancur sungguh rasa di hati

Sedang berkasih ditinggal pergi

                   Bintang bersinar di dalam kelam.

                   Sampai malam tak terlihat terang

                   Disangka panas sampai malam

                   Ternyata hujan datang membayang

Anak kelinci di Padang Terap

Melompat-lompat dengan senang hati

Setiap hari dinda berharap

Berharap dengan mengiba hati

                   Jalan-jalan membeli baki

                   Jangan lupa membeli kain

                   Kanda dulu saya miliki

                   Sekarang sudah milik yang lain

Jangan begitu tarah papan

Jauh rimbanya pada bumi

Jangan begitu kata talan

Jauh ibanya hati kami

                   Anak orang di Tanjung Sani

                   Duduk bersandar di pedate

                   Tidak disangka akan begini

                   Pisau dikandung makan di hati

Anak orang di Padang Tarap

Peram pisang dalam jemari

Kami selalu diberi harap

Itu mengiba hati kami.

 

Pantun Dagang atau Nasib

Biasa disebut juga dengan pantun nasib, biasa ditulis orang saat mengenang nasibnya. Pantun dagang berisi perasaan yang dialami seseorang. Baik perasaan tertekan, sedih, atau merana karena harus jauh dari tempat tinggal.

Contoh

Mencari ikan di tebing tinggi

Ikan berenang di balik karang

Mengingat nasib jangan ditangisi,

Nasib badan di kota orang

                   Ayam jantan si ayam jalak

                   Jaguh si Antan nama diberi

                   Rezeki tidak saya tolak,

                   Musuh tidak say acari

Menanam ubi di tepi ladang,

Ubi ditanam bertambah besar

Aku tak untung dalam berdagang

Selalu menanggung rugi besar

                   Buah manggis ada di hutan

                   Jika masak dibawa pulang

                   Hancur hati mengenang tuan

                   Harus berdagang di negeri orang

Sapi berjalan menarik kereta

Tiba-tiba berjalan mundur

Alangkah buruk nasib kita

Masih bekerja saat tidur

                   Kapal ikan mengelilingi pulau

                   Singgah sebentar di tepi karang

                   Meski ada di tanah rantau

                   Nasib saya selalu malang

Tarik tangan memohon ampun

Tangan lepas di tengah kampung

Hari petang matahari turun

Senanglah saya beroleh untung

                   Bunga senduduk buat kiriman,

                   Dari Gresik ke Surabaya

                   Jikalau duduk yang demikian,

                   Wahai nasib apalah daya

Dari Gresik ke Surabaya

Pagar siapa saya hancurkan

Wahai nasib apalah daya

Pada siapa saya sesalkan

                   Anak orang di Sungai paku.

                   Tanjong padan telurnya redup

                   Tak ada orang seperti aku

                   Menanggung susah seumur hidup

Orang teluk ke Surabaya

Di Surabaya membeli bata

Alangkah buruk nasib saya

Tidur bertilam air mata

 

Pantun Dewasa

Pantun Dewasa berisi tentang pengajaran yang diberikan oleh orang yang lebih tua. Selain pengajaran, pantun dewasa juga berisi nasihat, ibarat, atau sindiran kepada orang yang lebih muda.  Selain itu biasa juga dipakai dalam pertemuan adat sebagai selingan dalam berdebat. Pantun orang tua memiliki beberapa jenis, untuk jenisnya adalah sebagai berikut :

 

Pantun Adat

Berisi tentang pengajaran unutk menjaga adat yang berlaku. Dengan adanya pantun ini, orang muda diharapkan dapat mengunjungi tinggi adat dan kebudayaan yang di anut.  Anak muda diharapkan agar tidak menyimpang dari ada yang ditentukan.

 

Contoh

Pohon kelapa buahnya lebat,

Ayolah pilih yang paling ranum

Janganlah kawan lupakan adat,

Karena adat adalah hukum

                   Ikan pari bersenang-senang

                   Ikan hiu meraih asa

                   Syair indah adalah tembang

                   Bunyi yang baik adalah bahasa

Lihat kakek membawa bambu

Pergi berjalan ke kampung raga

Dari nenek turun ke ibu

Adat budaya perlu dijaga

                   Ikan berenang di dalam lubuk

                   Ikan belida dadanya Panjang

                   Adat pinang pulang ke tampuk

                   Adat sirih pulang ke gagang

Lebat daun bunga tanjong,

Berbau harum bunga cempaka

Adat dijaga pusaka dijunjung

Akan terpelihara adat pusaka

 

Pantun Nasehat

pantun yang mengandung nasehat biasa disebut sebagai pantun nasehat. Dibuat agar anak muda selalu ingat dan melakukan nasihat-nasihat yang didapat. Berikut adalah contohnya:

Satu dua sampai sepuluh

Lima enam tujuh delapan

Tuntutlah ilmu dengan seungguh

Supaya jangan ketinggalan

                   Ayam hitam tidak berbulu

                   Kalua dilihat membuat tertawa

                   Kalua bicara dipikir dulu

                   Supaya jangan membuat kecewa

Kain dihias dengan suji

Suji dibuat serupa kembang

Janganlah kita beringkar janji

Kelak bisa dibenci orang.

                   Berburu rusa di tanah datar,

                   Banyak rintangan datang menghadan

                   Jika kamu malas belajar

                   Jangan harap nikmatkan datang.

 

Pantun Agama

berisi pengajaran untuk taat kepada agama yang dianut. Pantun agama mengingatkan siapapun untuk melakukan ajaran agama yang mereka anut. Berikut adalah contohnya:

 

Asam kandis asam gelugur

Ketiga asam berenang-renang

Menangis badan di alam kubur

Mengingat badan tidak sembahyang

                   Buah duku jatuh di semak

                   Semak dibuka duku dimana

                   Apalah guna ilmunya banyak

                   Tidak sembahyang tiada berguna

Pergi ke took membeli tomat,

Obat diminum di dalam rumah.

Dunia akhirat takkan selamat

Jika kamu tidak ibadah

                   Banyaklah masa diantara masa

                   Tidak seindah masa berlalu

                   Tidak sembahyang sudah biasa

                   Membuat setan jadi sekutu

 

Pantun Budi

Berisi pengajaran untuk berbuat baik kepada semua orang. Pantun budi akan mengingatkan bahwa kebaikan yang dibuat seseorang tidak akan hilang. Berikut adalah contohnya:

Emas merah dibawa berlayar

Disimpan erat di dalam peti

Hutang emas bisa dibayar

Hutang budi dibawa mati

                   Ibu ayah segera datang,

                   Datang membawa buah manga

                   Janganlah lupa kebaikan orang

                   Kebaikan orang sangat berharga

Sulit benar membuat batik

Kalua usaha tetaplah jadi

Apa guna berwajah cantik

Jikalau tidak memiliki budi

                   Anak angsa mati lemas,

                   Mati lemas di air asin

                   Hilang bahasa karena emas

                   Hilang budi karena miskin

 

Pantun Kepahlawanan

memberi semangat kepada seseorang untuk melakukan perjuangan. Pantun kepahlawanan juga menunjukkan jasa-jasa para pahlawan. Dengan demikian, kita tidak melupakan jasa para pahlawan. Berikut adalah contohnya:

 

Adakah perisai bertali rambut,

Rambut dipintal akan cemara

Apakah kamu merasa takut,

Jangan takut hai kaum perkasa

                   Burung jalak burung nuri.

                   Semua terbang di depan mata

                   Kalua mau jangan mencuri

                   Mari kita beradu mata

Kalua orang menjaring angka

Di dalam pengukus rebung seiris

Kalua arang tercorong ke muka

Penghapusnya ujung keris

                   Burung pungguk terbang riuh

                   Hinggap di dahan mencari makan

                   Hidup jangan mencari musuh

                   Lebih baik mencari kawan

 

Pantun Teka-Teki

Berisi pertanyaan yang bisa di jawab. Serta biasa digunakan anak-anak untuk bermain tebak-tebakan atau berbalas pantun. Berikut ini adalah contoh jenis pantun teka-teki:

Bejalan-jalan kaki dibuka

Jangna lupa membawa nasi

Ayo kawan cobalah terka,

Semakin tua semakin berisi

Jawabanya : Balon

 

                   Naik kuda berlari kesana

                   Dengan bernyanyi tak henti-henti

                   Jika kamu benar bijaksana

                   Hewan apa tanduk di kaki

                   Jawabanya : Ayam Jago

 

Anak-anak bermain batu

Batu ditata satu per Satu

Badannya lurus bermata Satu

Ekornya tajam apakah itu?

Jawabanya : jarum

                   Herlayar Bersama ke pulau bintan

                   Menyusuri tepi Selat Malaka

                   Lebar kepala dari badan

                   Ikan apakah cobalah terka?

                   Jawabanya : Ikan pari

 

Pantun Jenaka

Biasa digunakan orang untuk menghibur hati dan bersenang-senang, jenis ini berisi pernyataan yang akan membuat orang lain tertawa atau menghibur. Pantun ini dibuat bukan untuk menghina siapapun, melainkan untuk menghibur semua orang. Agar setiap orang melupakan setiap masalahnya dan bergembira. Contohnya adalah berikut:

Limau purut di tepi rawa

Buah dilanting belum wasak

Sakit perut sebab tertawa

Melihat kucing duduk berbedak

                   Ambil segulung rotan tua

                   Sudah diambil mari diurut

                   Duduk termenung harimau tua

                   Melihat kambing mencabut janggut

Janda berhias merambah karang

Sirih kuning disangka serai

Melihat tikus mengasah parang

Datang kucing meminta damai

                   Sudah diambil mari diurut

                   Mari diurut dibawah tangga

                   Melihat kambing mencabut janggut

                   Gajah pula mengorek telinga

Ada juga jenis ini yang digunakan candaan, namun terkesan penggunaannya untuk mengolok kelemahan orang lain, maka dari itu perlu berhati-hati dalam menggunakannya, jangan sampai menyakiti perasaan orang lain.

 

Makna 

 

Langkah-Langkah Membuat Pantun

Membuat pantun tidaklah sulit, ada beberapa Langkah yang perlu kamu ikuti sebagai berikut:

Menentukan dahulu topik atau tema – tema dapat apa saja. Tema dapat berasal dari pengalaman pribadi, perasaan hati, peristiwa yang dilihat, atau didengar. Misalnya, kamu mengambil tema rajin belajar atau menabung

Memilih jenis pantun yang kamu buat – pilihlah jenis yang sesuai dengan tema yang dipilih. Seperti sukacita, dukacita, perkenalan, ataupun berkasih-kasihan. Tema itu kemudian kamu terapkan dalam jenis pantung yang telah kamu pilih. Misalnya, tema rajin belajar untuk pantun nasihat. Tema menabung untuk pantun suka cita.

Menulis dahulu isi, yaitu larik ketiga dan keempat –  tulislah isi pantun yang sesuai dengan tema yang dipilih. Isi harus mencerminkan tema. Isi pantun yang kamu tulis dapat digunakan untuk menasihati,menghibur, atau menjelaskan sesuatu. Contohnya:

Ayo belajar membanting tulang,

Janganlah jangan utamakan main

Ayo menabung setiap hari,

Dengan menabung membawa untung

Membuat kalimat sampiran – kalimat sampiran tidak perlu berhubungan dengan kalimat isinya. Yang penting bunyi akhir sampiran harus sama dengan bunyi akhir kalimat isi. Sampiran berfungsi untuk menarik orang lain agar membaca . Untuk itu, sampiran harus menggunakan kata-kata yang menarik. Usahakan dengan membaca sampiran orang akan lebih tertarik memahami isinya

Contohnya:

Jalan-jalan ke pasar barang,

Tidak lupa membeli kain.

Jalan ke tepi kali,

Jangan lupa membawa bumbung.

Menggabungkan isi dan sampiran yang sudah dibuat – jangan lupa untuk meletakkan sampiran diatas isi, setelah itu, koreksi Kembali pantun yang telah dibuat. Pastikan terdiri atas 8-12 suku kata. Pastikan bunyi akhir pantun adalah a b a b. ingat, baris pertama dan kedua saling berhubungan satu sama lain. Begitu juga dengan baris ketiga dan keempat. Oleh karena itu, baris pertama dan ketiga diawali dengan huruf kapital dan di akhiri dengan tanda koma. Dan baris kedua dan keempat diawali huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik.

Contoh:

Jalan-jalan kepasa barang,

 tidak lupa membeli kain.

Ayo belajar membanting tulang,

 janganlah jangan utamakan main.

Contoh Makna Pantun

Pantun memiliki isi dalam baris ketiga dan ke empat, namun setiap isi pesan pantun juga memiliki makna yang luas bila kita memaknai isi pesan dalam pantun lebih dalam. berikut ini adalah makna yang bisa kita dapatkan dari beberapa pantun berikut:

Bunga melati tercium wangi
Masih terasa sampai tubuh
Jangan lupa mandi pagi
Agar sehat seluruh tubuh

Apakah makna dari pantun tersebut?

Makna pada pantun diatas memberikan kita nasihat untuk selalu mandi di pagi hari, karena mandi pagi memberikan baik untuk kesehatan seluruh tubuh.

Pisang susu dimakan ketika fajar
Yang dimakan sebab masa hanya sebiji
Hutang berlian bisa dibayar
Dibawa mati hutang budi

Pantun diatas memiliki makna bahwa semua hutang yang bersifat material seperti harta bisa dibayar berapapun banyaknya, namun hutang budi kepada orang lain tidak akan bisa dibayar menggunakan seluruh harta sekalipun dan akan diingat hingga dia mati.

 

101 Contoh Pantun dengan Berbagai Tema

pengertian-pantun

Pantun Bersukacita

Hiu beli belana beli

Udang di manggung beli pula

Adik benci kaka pun benci,

Orang di kampung benci pula

                   Juragan Bernama sutan tahrir,

                   Muat beras bercampur pulut

                   Selama adikku lahir,

                   Telah boleh kawan bergelut

Jawi hitam tidak bertanduk

Memakan rumput di atas munggu

Lihatlah ayam tidak bertanduk,

Demikin hidup anak piatu

                   Kulit lembut celupkan samak,

                   Mari dibuat tapak kasut    

                   Harta dunia janganlah tamak

                   Kalua mati tidak mengikut

Elok rupanya kumbang janti

Dibawa itik pulang petang

Tidak terkata besar hati

Melihat ibu sudah datang

                   Emas urai dalam geleta,

                   Kain pendukung koyak di bendi

                   Biar berurai air mata

                   Ayah kandung tidak peduli

Hanyut batang berlilit kupai

Terdampar di ujung tanjong jati.

Bunda pulang bapa pun sampai

Kamu semua berbesar hati.

                                      Hanyutlah dari pulau kukus,

                                     Labah-labah beribu-ribu

                                     Apa kehendak tidak tulus,

                                     Tambahan tidak menaruh ibu

 Kayu rusak ambil petanak

Masalah pauh di peram serang

Baju tidak celana tidak,

Kakak jauh dirantau orang

                                     Kita menari diluar bilik

                                     Sebarang tari kita tarik

                                     Kita bernyanyi adik-beradik

                                     Sebarang nyanyi kita nyanyikan

Kepala muda makan di sawah

Tuan haji duduk sembahyang

Ketika bermuka dengan ayah

Ibu tiri berupa sayang

                                     Kuini tumbuh di badan

                                     Kebarat condong buahnya

                                     Kalua begini peruntungan badan

                                     Alamat melarat kesudahannya

Lurus jalannya ke tanjung sani

Berkelok tentang ladang lada

Jauh bedanya nasibku ini,

Dengan anak orang serada

                                     Lancuan kain selendang

                                     Pandan berjemur diujung pagar

                                     Kawan bermain sama gendang

                                     Badan tidur bergulung tikar

                       Manis sungguh tebu seberang

                       Dari akar sampai ke pucuk

                      Manis sungguh mulut orang

                     Kita nangis jadi terbujuk

Orang bandung memintal kapas,

Anak cina berkancing tilang

Ayah kandung pulang lekas

Anak anda rindu bukan kepalang

                                     Pisang mas bawa berlayar

                                     Masak sebiji di atas peti

                                     Utang mas boleh dibayar

                                     Utang budi dibawa mati

                                     20 tiada boleh menetak jati,

                                     Papan di jawa dibelah-belah

                                     Tiada boleh kehendak hati

                                     Kita dibawah perintah Allah

 

Pantun Berdukacita

Ke pasar membeli buah manggis

Jangan lupa membeli Nangka

Hari ini aku menangis

Karena aku di mari orang tua

                                     Jalan-jalan sama kekasih

                                     Tak lupa mampir kepantai

                                     Hari ini aku sedih

                                     Karena PR ku belum selesai

Siang hari pakai alas sendal

Siang hari pakai alas sendal

Hari ini aku sangat kesal

Karena nilaiku jelek sekali

                                     Pergi sekolah lewat kali

                                     Tak lupa pamit orang tua

                                     Hari ini aku kesal sekali

                                     Karena nilaiku dapat enam dua

 

Pantun Dagang atau Nasib

Ikan arwana bersisip delapan

Satu terjepit dahan cempaka

Sudah nasib sudah suratan

Ibu sakit papa Tekena pehaka

                                    Pagi ini bibi kepasar

                                     Terbang belikis lari ke sarang

                                     Hati ini menjadi gusar

                                     Barang habis dicuri orang

Tudung saji hanyut terapung.

Hanyut terapung di air sungai

Niat hati hendak pulang kampung

Apa daya tangan tak sampai

                                     Dari malakake negri Pahang

                                     Indah di Kendal beli kuini

                                     Saya ini dagang menumpang

                                     Mengharap belas orang disini

Pukul gendang kulit biawak

Sedikit tidak berdentum lagi

Hendak ke mana untung kubawa

Sedikit pun tidak beruntung lagi

                                     Gedang-gedang kay di rimba

                                     Sike duduk degung berdegung

                                     Kadang-kadang hatiku iba

                                     Setiap saat duduk termenung

Berlari-lari ke kayu sepat

Di sana tempat sarang belalang

Berlari-lari mencari obat

Obat dapat nyawa telah hilang

                                     Meninjau padi telah masak

                                     Batang kapas bertimbal jalan

                                     Hati risau di bawa gelak

                                     Bagai panas mengandug hujan

Bukit puisi bukit berderai

Tanahnya liat berbatu-batu

Walau kini badan bercerai

Tapi tidak berlama-lama

                                     Berdentum tentang ombak purus

                                     Berdentum tentang pariaman

                                     Dimana badan takkan kurus

                                     Anak delapan yang di tanggugkan

Kalau tidak tahu dirumah raja

Liahtlah pandan yang berduri

Kalua tidak tahu di untung hamba

Dapat petang habis pagi

                                    Ada di timba bandar padang

                                     Biuluk juga yang tertimba

                                     Ada di tiru yang di orang

                                     Yang buruk jua yang bersua

Usah ditimpa bandar padang

Makin ditimpa makin keruh

Usah di cinta anak dagang

Makin di cinta makin jauh

                                     Kapal perak pendayung perak

                                     Nahkoda dari tanah jawa

                                     Berkapak tidak beribu pun tidak

                                     Ke mana untung akan di bawa

Apa direndang di kuali

Beras siarang belum masak

Apa di pandang kepada kami

Emas kurang bangsa pun tidak

                                    Orang menampi di halaman

                                     Anak raja pergi ke tungkai

                                     Tuan hendak pergi jalan

                                     Hamba tak suka di tinggalkan

Berlari-lari bukanlah kijang

Pandan tersandar di ujungnya

Bernyanyi-nyanyi bukanlah girang

Badan tersadar di untungnya

                                     Singkarak kota tinggi

                                     Sumanip menghadap dulang

                                     Awan berarang hamba tangisi

                                     Badan jauh di rantau orang

Pantun berkenalan

Kayu manis di kedai rempah

Dibeli untuk bumbu masakan

Adik manis tidakkah marah

Kalua abang mau kenalan?

                                     Kedai rempah di pinggir jalan

                                     Menjual banyak bumbu yang lain

                                     Mengapa marah hanya kenalan

                                     Asal tidak menuju yang lain

Kota batu deket ke malang,

Kotanya sejuk indah pemandangan

Hanya begitu tekad abang

Biasanya merajuk untuk berkenalan

                                     Menjual kain motifnya batik

                                     Karena batik banyak pilihannya

                                     Apa yang lain maksudnya adik

                                     Kalua tertarik kan nggk ada salahnya?

Jangan buang sampah sembarangan

Masukkan dia ke tempat yang tersedia

Jangan lah marah ke abang sembarangan

Katakana saja adik tidak bersedia

 

Pantun Berkasih-kasihan

 

Coba-coba menanam mumbang

Moga-moga tumbuh kelapa

Coba-coba bertanam sayang

Moga-moga menjadi cinta

                                     Limau purut lebat dipangkal

                                     Sayang selasih condong uratnya

                                     Angin rebut dapat ditangkal

                                     Hati yang kasih apa obatnya

Ikan belanak hilir berenang

Burung dara membuat sarang

Makan tak enak tidur tak tenang

Hanya teringat dinda seorang

                                     Anak kera di atas bukit

                                     Dipanah oleh indera sakti

                                     Dipandang muka senyum sedikit

                                     Karena sama menaruh hati

Ikan sepat dimasak berlada

Kutunggu di gulai anak di seberang

Jika tak dapat dimasa muda

Kutunggu sampai beranak seorang

                                     Kalau tuan pergi ke tanjung

                                     Kirim saya sehelai baju

                                     Kalua tuang menjadi burugn

                                     Sahaya menjadi ranting kayu

Kalau tuan pergi ke tanjung

Belikan sahaya pisau lipat

Kalua tuan menjadi burung

Sahaya menjadi benang pengikat

                                     Kalau tuan mencari buah

                                     Sahaya pun mencari pandan

                                     Jikalau tuan menjadi nyawa

                                     Sahaya pun menjadi badan

Anak itik mulailah terbang

Ambilkan dedak berilah makan

Janganlah adik merasa bimbang

Segala kehendak abang tunaikan

                                     Membawa peti dari malaka

                                     Berisi pakaian si anak Raja

                                     Kalua hati sudah merasa suka

                                     Semua keadaan indah dimata

Ikan batu di atas bara

Pohon selasih di tepi kota

Pikiran buntu badan sengsara

Bila kekasih jauh di mata

                                    Ada budak membuang dedak

                                     Penuh setimba di celah batu

                                     Berdua tidak, bertiga pun tidak

                                     Kekasih hamba hanyalah Satu

Dinda cantik tinggi semampai

Dada bidang rambut mengurai

Putih melepak lembut gemulai

Kakanda melihat rasa terkulai

                                     Walau banyak bunga di taman

                                     Bunga mawar masih dikenang

                                     Walau banyak kupunya teman

                                     Dalam hatiku dinda seorang

Pohon selasih tumbuh melata

Tumbuh perdu jauh disana

Sepasang kasih mabuk bercinta

Siang merindu malam merana

                                     Tinggi-tinggi burung merbuk

                                     Terbang melayang ke tanah rata

                                     Hati teringat mulut menyebut

                                     Wajah terbayang di depan mata

Sayang-sayang mabuk kepayang

Bunga di taman disunting kumbang

Belum dapat abang disayang

Sudah dapat abang dibuang

                                     Melompat belalang di atas kapuk

                                     Melihat orang hendak berperang

                                     Alangkah malang si bujang lapuk

                                     Bunga di tangan disambar orang

Kalau ada sumur di ladang

Mandi jangan di bulan terang

Sudah nasib celaka badan

Tunangan hilang dibawa orang

                                     Ikan di laut asam di darat

                                     Dalam kuali bertemu jua

                                     Orang jauh berkirim surat

                                     Berkali-kali dibaca juga

Sayang selasih tidak berbunga

Engganlah kumbang untuk menyapa

Sayang kekasih tidak setia

Badan merana kini jadinya

 

Pantun Berceraian

 

Pucuk pauh delima batu

Anak sembilang di tapak tangan

Biar jauh dinegeri Satu

Hilang di mata di hati jangan

                                     Bagaimana tidak dikenang

                                     Pucuknya pauh selasih Jambi

                                     Bagaimana tidak terkenang

                                     Dagang yang jauh kekasih hati

Duhai selasih janganlah tinggi

Kalaupun tinggi berdaun jangan

Duhai kekasih janganlah pergi

Kalaupun pergi bertahun jangan

                                     Batang selasih mainan budak

                                     Berdaun sehelai dimakan kuda

                                     Bercerai kasih beralak tidak

                                     Seribu tahun Kembali juga

Bunga cina bunga karangan

Tanamlah rapat tepi perigi

Adik dimana abang gerangan

Bilalah dapat bertemu lagi

 

Pantun Beriba Hati

 

Jangan begitu tarah papan

Jauh rimbanya padi jambi

Jangan begitu kata talan

Jauh ibanya hati kami

                                     Orang padang ke Sukabumi

                                     Berangkat dari Pulan karam

                                     Jangan dilumpang biduk kami

                                     Biduk tiris menanti karam

Orang serati pergi ke Cina

Dari kuala lalu ke pekan

Kalua seperti bersunting bunga

Sudah layu orang campakan

 

Pantun jenaka

 

Naik ke bukit membeli lada

Lada sebiji dibelah tujuh

Apanya sakit berbini janda

Anak tiri boleh disuruh

                                     Orang sasak pergi ke Bali

                                     Membawa pelita semuanya

                                     Berbisik pekak dengan tuli

                                     Tertawa si buta melihatnya

Ada apa di seberang itu

Mentimun busuk dimakan orang

Ada apa di seberang itu

Bujang bungkuk gadis belong

                                     Limau purut di tepi rawa

                                     Buah dilanting belum masak

                                     Sakit perut sebab tertawa

                                     Melihat kucing duduk berdebak

 

Pantun Nasihat

contoh-pantun

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang

                                     Kemuning di tengah balai

                                     Bertumbuh terus semakin tinggi

                                     Berunding dengan orang tak pandai

                                     Bagaikan alu pencungkil duri

Parang diletak ke batang sena

Belah buluh taruhlah temu

Barang dikerja takkan sempurna

Bila tak penuh menaruh ilmu

                                     Padang temu padang baiduri

                                     Tempat raja membangun kota

                                     Bijak bertemu dengan jauhari

                                     Bagaikan cincin dengan permata

Ngun Syah Betara Sakti

Panahnya Bernama Nila Gandi

Bilanya emas banyak dipeti

Pantun adat

Menanam kelapa di pulau

Bukum tinggi sedepa sudah berbuah

Adat bermula dengan hukum

Hukum bersandar di kitabullah

                                     Ikan berenang di dalam lubuk

                                     Ikan belida dadanya Panjang

                                     Adat pinang pulang ke tampuk

                                     Adat sirih pulang ke gagang

Lebat daun bunga tanjung

Berbau harum bunga cempaka

Adat dijaga pusaka dijunjung

Baru terpelihara adat pusaka

                                     Bukan lebah sebarang lebah

                                     Lebah bersarang di buku buluh

                                     Bukan sembah sembarang sembah

                                     Sembah bersarang jari sepuluh

Pohon Nangka berbuah lebat

Bilalah masak harum juga

Berumpun pusaka berupa adat

Daerah berluhak alam beraja

                                     Banyak bulan perkara bulan

                                     Tidak semulia bulan puasa

                                     Bayak Tuhan perkara Tuhan

                                     Tidak semulia Tuhan Yang Esa

Daun terap di atas dulang

Anak udang mati di tuba

Dalam kita ada terlarang

Yang haram jangan dicoba

                                     Bunga kenanga diatas kubur

                                     Pucuk sari pandang jawa

                                     Apa guna sombong dan takabur

                                     Rusak hati badan binasa

Anak ayam turun sepuluh

Mati seekor tinggal Sembilan

Bangun pagi sembahyang subuh

Minta ampun kepada Tuhan

Pantun Agama

kalau bukan rindukan Mentari

Tentu malam akan rindu siang

Kalua hati cinta ilahi

Tentu dirinya akan merasa tenang

                                     Hidup manusia hanyalah sekali

                                     Waktu tak terasa dijemput mati

                                     Kerakusan insan takkan pernah berhenti

                                     Kecuali kubur telah mengunci diri hingga mati

Air dan api selalu berlawanan

Langit dan Bumi adalah berjauhan

Kalau hati penuh kedengkian

Siapalah orang yang akan mau berteman

                                     Serigala suka makan garam

                                     Dia makan pakai tiga moncong

                                     Rumah kumuh sangat seram

                                     Karena ada banyak pocong

Buat apa berbaju batik kalua

Tidak pake selendang

Buat apa berwajah cantik

Kalau tidak mau sembahyang

                                     Pergi ke pantai membawa tikar

                                     Harus permisi pada orang tua

                                     Anak baik dan anak pintar

                                     Pasti disayang oleh semua

Belatuk di atas dahan

Terbang pergi ke lain pokok

Hidup mati di tangan Tuhan

Kepada Allah kita bermohon

                                     Halia ini tanam-tanaman

                                     Ke Barat juga akan rebahnya

                                     Dunia ini pinjam-pinjaman

                                     Ke akhirat juga akan sudahnya

Redup bulan Nampak nak hujan

Pasang pelita sampai berjelaga

Hidup mati di tangan Tuhan

Tiada siapa dapat menduga

                                     Kulit lembu celup samak

                                     Mari buat tapak kasut

                                     Harta dunia janganlah tamak

                                     Kalua mati tidak diikut

Salah satu penyebab terdegradasinya makna pantun bagi masyarakat adalah tidak mengenal definisinya itu sendiri. Bagi Sebagian masyarakat yang tidak mengetahui makna filosofisnya. Dan hanya dianggap sebagai sebuah ucapan tanpa makna filosofis yang sangat mendalam.

Padahal tidak hanya sebuah karya sastra, namun juga sebuah hasil peradaban yang berasal dari pemikiran bangsa yang besar dan sangat arif terhadap kehidupannya. Semoga pembahasan ini memberi makna yang lebih baik dari pantun itu sendiri

Baca juga : Kumpulan Pantun Melayu

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *